KISAHCINTA - SALMAN AL-FARISI.RA dan ABU DARDA.RA - YouTube. Salman Al - Farisi By : tutor 4 8c. Kisah Salman Al Farisi, Ahli Strategi Perang dari Persia. Kajian Ramadhan 1442 H: Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Bernama Salman Al Farisi - Pikiran Rakyat Sumedang. Baca Online Ebook Salman Al Farisi | Ebook Anak
8 Pelajaran Hikmah Perang Khandaq / Perang Ahzab disertai Sejarahnya. Sumber gambar: sabq.org. Perang Khandaq atau yang sering disebut juga dengan nama perang Ahzab adalah perang ketiga terbesar dalam sejarah ghazwah Nabi Muhammad ď·ş setelah Perang Badar Al - Kubra dan Perang Uhud. Dalam perang ini kaum Muslimin menghadapi pasukan gabungan
46K views, 241 likes, 32 loves, 3 comments, 156 shares, Facebook Watch Videos from Yufid TV: Kisah Salman Al Farisi & Abu Darda - Ustadz Muhammad Firman, Lc. - 5 Menit yang Menginspirasi Youtube
Islammengajarkan untuk berbuat sesuatu didasarkan untuk mencari ridha Allah. Jika yang dicari tidak menjadi miliknya, maka itu semata-mata Allah tidak menakdirkannya. Nah, jika kita mengalami peristiwa sebagaimana dialami Salman al-Farisi dan Abu Darda', maka tirulah sikap kesantunan dan keikhlasan beliau berdua dalam menerima takdir.
Salmanal-Farisi dilahirkan dengan nama Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Setelah memeluk Islam beliau digelar Abu Abdillah, namun lebih masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam. Salman berasal dari Parsi (dalam bahasa Arab, Faris), dan dari sinilah namanya disebut dengan 'al-Farisi'. Beliau tinggal di sebuah desa bernama Jayy, dalam kota Asbahan (kota
akses mudah dan cepat ke berbagai layanan keuangan yang dapat membantu pengguna dalam mengatur dan mengoptimalkan keuangan mereka. 2. Praktis dan Mudah Digunakan. Kisah Salman Al Farisi Dan Abu Darda. admin. 0 0 35 mins. Romantika Kehidupan. admin. 0 0 37 mins.
KpQTIHL. loading...Kisah cinta Salman Al Farisi adalah perasaan cinta karena iman, sehingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Foto ilustrasi/ist Mungkin kita sering mendengar ada teman atau sahabat menelikung cinta ? Atau kala harus menghadapi kenyataan pahit bahwa orang yang kita cintai justru memilih sahabat sendiri untuk dinikahi? Tak terbayang bagaimana perasaan tahukah muslimah? Ternyata kisah seperti itu sudah terjadi lebih dari tahun yang lalu. Kisah dari sahabat Rasulullah, Salman Al-Farisi, yang darinya kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah terpuji sebagai seorang mukmin tersebut termaktub dalam kitabShifat al-Shafwahkarya Ibnu al-Jauzi.Baca juga Inilah Pintu - pintu Surga untuk Perempuan Kisah itu dimulai saat Salman Al-Farisi, anak seorang bangsawan , bupati, di daerah kelahirannya, Persia . Ketika sudah memasuki usia yang cukup untuk menikah. Hati Salman kepincut perempuan Anshar. Yakni perempuan asli kelahiran Madinah. Di kalangan kaum Anshar , Salman sejatinya dianggap sebagai keluarga mereka. Demikian juga kaum Muhajirin . Pendatang dari Makkah ini juga menganggap Salman bagian dari kaum bagaimana pun, Madinah bukanlah tempat ia tumbuh dewasa. Ia berpikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi urusan pelik bagi seorang pendatang seperti dirinya. Maka, disampaikanlah gejolak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.Baca juga Hakikatnya untuk Diri Sendiri, Maka Berikan Sedekah dengan Harta Terbaik Abu Darda pun sangat senang mendengar kabar dan niat baik sahabatnya itu. “Subhanallah, Walhamdulillah,”ujar Abu Darda mengungkapkan kegembiraannya. Dan ketika itu pula, Salman Al Farisi bermaksud melamar gadis pujaan hatinya itu. Dia mengajak sahabatnya, Abu Darda, untuk menemaninya. Abu Darda merasa tersanjung dengan ajakan Salman itu. Ia pun memeluk Salman Al Farisi dan bersedia segala sesuatunya dianggap beres, keduanya pun mendatangi rumah sang gadis. Selama perjalanan, mereka tampak gembira. Setiba di tujuan, keduanya diterima dengan tangan terbuka oleh kedua orang tua wanita Anshar tersebut.Baca juga Mihnah, Pelengkap Busana Muslimah yang Penting Diketahui Abu Darda menjadi juru bicara. Ia memperkenalkan dirinya dan juga Salman Al Farisi. Ia menceritakan mengenai Salman Al Farisi yang berasal dari Persia. Abu Darda juga menceritakan mengenai kedekatan Salman Al Farisi yang tak lain adalah sahabat Rasulullah SAW. Dan terakhir adalah maksudnya untuk mewakili sahabatnya itu untuk maksud mereka melamar putrinya, membuat tuan rumah merasa sangat terhormat. Mereka senang akan kedatangan dua orang sahabat Rasulullah. Hanya saja, sang ayah tidak serta merta menerima lamaran itu. Sebagaimana diajarkan Rasulullah, sang ayah harus bertanya dulu bagaimana pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Karena jawaban itu adalah hak dari putrinya secara penuh.Baca juga Babak Baru UU Cipta Kerja, 40 Aturan Turunan Dikejar Demi Diterima Buruh Sang ayah pun lalu memberikan isyarat kepada istri dan juga putrinya yang berada di balik hijabnya. Ternyata sang putri telah mendengar percakapan sang ayah dengan Abu Darda. Gadis ini juga telah memberikan pendapatnya mengenai pria yang jantung Salman Al Farisi saat menunggu jawaban dari balik tambatan hatinya. Abu Darda pun menatap gelisah pada wajah ayah si gadis. Dan tak begitu lama semua menjadi jelas ketika terdengar suara lemah lembut keibuan sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi.Baca juga Waspadai Pancaroba, Dosen Ini Ingatkan Pentingnya Jaga Imunitas Tubuh “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” kalimat itu membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda berdebar tak sabar. Perasaan tegang dan gelisah pun menyeruak dalam diri mereka berdua.“Karena kalian berdua yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda juga memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi,” katanya.Baca juga Aksi Gerakan Saling Berbagi Digelar di Depok, Warga Ikutan Taruh Bahan Pangan Keterusterangan yang di luar prediksi. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Hal Ironis sekaligus indah. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati.
Oleh Wd Deli Ana Praktisi PAUD [email protected] “ILMU itu luas, sedangkan umur kita pendek. Oleh karena itu, pilihlah ilmu yang sangat kamu butuh kan bagi agamamu dan tinggalkan yang lain.” Sungguh untaian kata penuh hikmah. Sarat akan makna yang diungkap salah seorang sahabat Rasul saw. Siapa lagi kalau bukan Salman Al-Farisi. Namanya terukir dalam sejarah sebagai seorang yang tak kenal lelah berjalan menjumput hidayah. Terlahir di desa Ji’, daerah Isfahan Persia, 1500 kilometer di sebelah timur laut Madinah. Salman kecil tumbuh sebagai pengikut Majusi yang menyembah api. Maklum saja ayahnya tergolong penganut Majusi yang ditokohkan. Namun fitrahnya yang lurus mengantarkan Salman pada pencarian panjang akan kebenaran. BACA JUGA Tiga yang Membuat Salman Al-Farisi Terpingkal-pingkal dan Tersedu-sedu Berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain ditempuh Salman Al-Farisi tanpa kenal lelah. Semata demi menyerap ilmu dari sang guru. Foto Pinterest Sampai saat gurunya yang terakhir menjelang maut berwasiat kepada Salman, “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang akan aku perintahkan kamu mendatanginya untuk berguru. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. “Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!”. Meski terseok menempuh luasnya hamparan gurun bahkan sempat terpuruk sebagai budak, namun upayanya menemukan Nabi pembawa risalah kebenaran tak sia-sia. Dari Persia sampai di Madinah Salman akhirnya tersungkur mendekap Nabi saw dan masuk dalam pelukan Islam. Dengan serta merta Salman Al-Farisi menjadi bagian dari sahabat-sahabat Nabi. Mereguk manisnya persahabatan dari cangkir ukhuwah Islamiyah. Saling menolong dan menjaga. Tak segan mengutamakan sahabat ketimbang diri sendiri. Termasuk yang terjalin di antara Salman Al-Farisi dan Abu Darda’ dari Anshar. Dua orang yang dipersaudarakan di jalan Allah oleh Baginda Rasul saw. Dua sahabat seia- sekata. Sampai suatu ketika Salman dihadapkan pada peristiwa yang menguji keakraban mereka. Saat itu dalam diam Salman memendam getar rasa pada seorang wanita dari Anshar. Rasa yang mampu membuatnya resah nan gelisah tapi penuh asa. Getaran yang bila ia tak siaga kan bisa membawanya meniti jalan ke neraka. Ia paham hanya pernikahanlah satu-satunya jalan untuk menghalalkannya. Namun apa daya Salman Al-Farisi adalah pendatang di Madinah. Tentu bahasa menjadi kendala. Harus ada yang menolong sebagai perantara maksudnya. Yang bisa mengutarakan hajat dengan cita rasa Madinah. Salman sudah tahu siapa orangnya. Siapa lagi selain Abu Darda’. Saudaranya dari Anshar yang dia sayangi dan menyayanginya. Berangkatlah Salman dan Abu Darda’ meminang sang gadis. Mereka berjalan beriringan menuju rumah seorang wanita salihah lagi bertakwa. Di hadapan kedua orang tua si gadis, Abu Darda’ menyampaikan niat baik Salman. Layaknya pinangan maka jawaban dikembalikan pada si gadis. Berdegup jantung Salman Al-Farisi semakin cepat dalam penantian. Sampai akhirnya meluncur kata demi kata dari ibunda yang mewakili putrinya. “Maafkan kami atas keterusterangan ini. Dengan mengharap ridho Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda juga memiliki maksud yang sama, maka putri kami bersedia.” Nyesss… Hati Salman bagaikan tersiram air dingin. Beku. Masih berharap ia salah mendengar. Tak menyangka lamarannya ditolak. Sirnalah asa yang selama ini dipupuk. Salman pun terenyak dalam diam. Tapi tak lama. Kekukuhan imannya mampu membuat Salman tetap tegar berdiri. BACA JUGA Salman Al-Farisi Amir yang Sederhana Dan dengan bibir bergetar menahan luapan rasa, Salman Al-Farisi masih sempat berseru, “Allaahu Akbar!, Semua mahar dan harta yang aku persiapkan hari ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku menjadi saksi pernikahan kalian!” Betapa luas samudra hati Salman Al- Farisi. Kegagalan tak membuat ia jatuh terpuruk berlarut-larut. Apalagi di sisinya ada sahabat sejati yang beroleh kebahagiaan. Wajah Salman kembali berbinar ikut larut dalam kegembiraan saudaranya. Bahkan ketika Abu Darda’ berkata dengan gundah, “Aku riskan dan malu padamu atas terjadinya peristiwa ini. ” Salman Al-Farisi di tengah kesedihannya yang sunyi tetap mampu menghibur, “Aku lebih berhak untuk merasa malu denganmu ,di mana aku yang melamarnya ,sementara Allah memutuskannya untukmu.” []
LAZ al-Hilal – Apakah sahabat Al Hilal telah mengetahui kisah tentang Salman Al Farisi dan Abu Darda? Ya, kisah yang terjadi antara cinta dan persahabatan ini adalah kisah yang amat popular hingga saat ini. Untaian kata yang penuh hikmah dari Sahabat Rasulullah SAW “Ilmu itu luas, sedangkan umur kita pendek. Oleh karena itu, pilihlah ilmu yang sangat kamu butuh kan bagi agamamu dan tinggalkan yang lain.” yang masih popular dan penuh hikmah ini pun masih popular hingga saat ini sebagai sejarah dari seorang yang tak kenal Lelah berjalan menjemput hidayah. Sedikit sejarah bagi sahabat Al Hilal yang belum mengenal Salman Al Farisi, beliau terlahir di salah satu Desa yang ada di Persia. Salman kecil tumbuh sebagai pengikut Majusi yang menyembah api. Maklum saja ayahnya tergolong penganut Majusi yang ditokohkan. Namun fitrahnya yang lurus mengantarkan Salman pada pencarian panjang akan kebenaran. Bermula dari perpindahan satu Negeri ke Negeri lainnya ditempuh Ia tanpa Lelah. Perjalanan mencari Ilmu yang Ia tekuni tak lepas dari kehidupan-kehidupan yang lainnya, seperti asmara. Termasuk persahabatan yang terjalin di antara Salman Al Farisi dan Abu Darda yang berasal dari Anshar. Dua sahabat seia- sekata. Sampai suatu ketika Salman dihadapkan pada peristiwa yang menguji keakraban mereka. Apa itu? Saat itu dalam diam Salman memendam getar rasa pada seorang wanita dari Anshar dan Pernikahanlah yang menjadi satu-satunya jalan untuk menghalalkan rasa tersebut. Dikisahkan, Salman Al Farisi berniat untuk meminang gadis tersebut dengan dihantarkan langsung oleh sang Sahabat, Abu Darda yang berasal dari asal daerah Gadis tersebut yaitu Anshar. Tetapi apa yang didapatkannya? Berdegup jantung Salman Al-Farisi semakin cepat dalam penantian. Sampai akhirnya meluncur kata demi kata dari ibunda yang mewakili putrinya. “Maafkan kami atas keterusterangan ini. Dengan mengharap ridho Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda juga memiliki maksud yang sama, maka putri kami bersedia.” Lamaran yang ia tujukan ditolak! Tetapi, kukuhnya iman yang Ia miliki mampuu membuatnya untuk berdiri tegar. Betapa luas samudra hati Salman Al- Farisi. Kegagalan tak membuat ia jatuh terpuruk berlarut-larut. Apalagi di sisinya ada sahabat sejati yang beroleh kebahagiaan. Wajah Salman kembali berbinar ikut larut dalam kegembiraan saudaranya. MasyaAllah…
Kisah tentang sahabat rasul memang banyak menyimpan ibrah dan teladan. Termasuk sepenggal episode kisah dua orang sahabat rasul, Salman al-Farisi Ra. dan Abu Darda Ra. yang memang sudah begitu seorang Salman al-Farisi, salah seorang sahabat Rasulullah saw berdarah Persia. Sebelum memeluk Islam, ia termasuk bagian dari orang-orang majusi, penyembah api Zoroaster. Namun ketika cahaya Islam menyentuhnya – layaknya para sahabat yang lain – menjadi salah seorang yang militan dan semangat dalam membela ketika Salman al-Farisi tengah gundah gulana, sang arsitek Perang Khandak tersebut tengah mencari jodoh. Mungkin lama sudah ia membujang hingga perlunya ingin segera mengakhiri masa Salman al-Farisi telah lama mengincar salah seorang perempuan salihah yang hendak ia khitbah dalam waktu dekat. Menurur riwayat, perempuan pujaan Salman tersebut adalah gadis Anshor yang merupakan seorang mu’minah nan cantik lagi urusan khitbah bukan permasalahan sepele bagi Salman, ia butuh seorang perantara untuk menyampaikan keinginannya melamar sang pujaan. Terbesitlah salah seorang sahabat karibnya untuk dimintai pertolongan, Abu bukanlah tempat kelahiran dan daerah asal Salman al-Farisi, oleh karenanya ia meminta Abu Darda menjadi perantara prosesi khitbahnya. Keinginnan Salman pun disampaikan ke Abu Darda. “Subhanallah wal Hamdulillah” ucap Abu Darda dengan penuh kegirangan setelah mendengar keinginan sahabatnya Salman yang hendak meminta bantuannya perihal Darda pun tak perlu pikir panjang, dengan senang hati ia membantu hajat sahabatnya tiba waktunya mereka berdua menuju ke rumah gadis anshar yang disukai oleh Salman al-Farisi. Setelah sampai di rumah orang tua fulanah tersebut, Abu Darda bertemu dengan kedua orang tuanya. Tanpa babibu panjang lebar, Abu Darda mengungkapkan perihal maksud kedatangannya.“Saya adalah Abu Darda dan ini adalah saudara saya Salman al-Farisi dari Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia telah memiliki kedudukan mulia di mata Rasulullah Saw. hingga beliau menyebutnya sebagai ahlul bait,” ucap Abu Darda dengan penuh wibawa.“Saya datang ke sini mewakili saudara saya Salman al-Farisi untuk melamar putri Anda”.Ternyata sang gadis telah mendengar sayup-sayup dari bilik rumah perbincangan antara kedua orang tuanya dan Abu Darda. Sang Ayah dari seorang putri yang diidamkan oleh Salman pun mengembalikan semua keputusan pada putrinya, apakah menerima atau sang Ibunda berbicara mewakili putrinya dan takdir Allah berkehendak lain. “Maafkan kami atas keterusterangan ini, putri kami menolak dengan penuh hormat pinangan ananda Salman al-Farisi.”Tak cukup sampai disitu, bak halilintar di siang bolong, Ibu dari sang putri shalihah berucap “Namun jika Saudara Abu Darda memiliki tujuan yang sama, maka putri kami lebih memilih antum sebagai calon suaminya.”Bayangkan jika kita berada di posisi Salman saat itu, apa yang akan kita lakukan mendengar hal tidak demikian dengan Salman al-Farisi, di sinilah letak kemuliaan manusia-manusia hasil didikan Rasulullah Saw. Dengan fasih dan berwibawa ia berujar “Semua mahar dan nafkah yang aku persiapkan ini aku serahkan kepada Abu Darda.”Tak cukup berkata itu, Salman kembali mengucap lantang “Dan aku akan menjadi saksi atas pernikahan kalian”.Kisah tersebut akhirnya termaktub dan mengekal dalam sejarah Islam karena kemuliaan Salman al-Farisi yang tidak menuhankan cinta semata. Bayangkan jika Salman bersikap sebaliknya, berputus asa, galau merana, lari mengambil pisau atau mencari tebing untuk mengakhiri hidupnya, mungkin hanya akan menjadi romansa picisan yang cepat khitbah, nikah dan jodoh adalah satu hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Terlebih di bulan Syawal ini, ratusan jomlo dipastikan melepas masa lajangnya sekaligus masih banyak pula para jomlo yang semakin galau melihat berderet sahabat angkatan gengnya telah dari kisah tersebut tidak semata meneladani kualitas akhlak dan keimanan Salman al-Farisi semata, tentu masih ada hikmah yang lain. Yaitu untuk kaum jomlo biar gak jadi pagar makan tanaman alangkah baiknya pastikan mak comblang’ yang kamu pilih saat melamar si dia tidak lebih keren atau lebih tampan daripada kamu, tidak juga lebih kaya dari kamu, syukur-syukur dia sudah menikah, tentu itu lebih aman. Intinya tetap semangat aja mencari jodoh ya A’lam.
Salman al-Farisi merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Lelaki itu berasal dari Persia. Di negeri asalnya, ia merupakan orang merdeka. Namun, dalam perjalanan ke Jazirah Arab untuk mencari utusan Allah—sebagimana dipesankan seorang mantan gurunya—ia mengalami musibah. Sampai-sampai, dirinya sempat menjadi budak belian. Saat berjumpa dengan Rasulullah SAW, Salman langsung menyatakan keimanannya. Dengan bantuan beliau dan sejumlah Muslimin, dirinya pun dibebaskan dari status hamba sahaya. Sejak saat itu, ia tidak pernah absen dari perjuangan di jalan dakwah bersama dengan Nabi SAW. Mengikuti jejak beliau, Salman turut berhijrah ke Madinah. Di kota tersebut, Rasul SAW mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan penduduk setempat Anshar. Bagi yang belum memiliki tempat tinggal, dipersilakan menempati pelataran Masjid Nabawi yakni bagian yang disebut sebagai Suffah. Saat berjumpa dengan Rasulullah SAW, Salman langsung menyatakan keimanannya. Di Madinah, Salman sangat rajin dalam menuntut ilmu dan juga bekerja. Ia menghayati betul sabda Nabi SAW, “Tidak ada orang yang mendapatkan makanan yang lebih baik daripada hasil dari pekerjaan tangannya sendiri.” Sebagian penghasilannya ditabung untuk menghadapi hari depan. Akhirnya, Salman ingin menikah. Selama ini, hatinya diam-diam condong pada seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Akan tetapi, dirinya belum berani melamar Muslimah tersebut. Sebagai seorang pendatang dari luar Arab, ia merasa kurang percaya diri. Bagaimana adat melamar wanita menurut tradisi masyarakat Madinah? Ia belum bisa memastikan. Yang jelas, jangan sampai melangkah tanpa persiapan yang matang. Karena itu, Salman berinisiatif untuk meminta bantuan dari seorang Anshar, yakni Abu Darda. Begitu mengetahui maksud kedatangan Salman, Abu Darda mengucapkan hamdalah. Sosok yang bernama asli Uwaimir bin Malik al-Khazraji itu turut senang melihat seorang Muslim yang saleh hendak menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, dirinya bersedia membantu pemuda asal Persia tersebut. Selama beberapa hari, segala persiapan dilakukan. Barulah kemudian, Salman dengan ditemani Abu Darda mendatangi kediaman keluarga sang gadis yang dimaksud. Mereka diterima dengan baik oleh tuan rumah. Salman dengan ditemani Abu Darda mendatangi kediaman keluarga sang gadis yang dimaksud. Mereka diterima dengan baik oleh tuan rumah. “Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya, Salman, dari Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam. Ia pun turut dalam jihad dan beramal di sisi Rasulullah SAW. Bahkan, beliau menganggapnya sebagai anggota keluarga sendiri,” ujar Abu Darda dengan fasihnya menggunakan dialek bahasa Arab Madinah. Setelah perkenalan, ia pun menyampaikan maksud kedatangan. Tujuannya bertamu ialah mewakili Salman untuk melamar putri sang tuan rumah. Rupanya, bapak si gadis itu merasa senang sekali. “Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah SAW yang mulia. Kami pun senang jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita. Namun, sang tuan rumah tidak langsung memberi keputusan. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, ia terlebih dahulu menanyakan pendapat putrinya tentang lamaran tersebut. “Jadi, saya serahkan keputusan pada putri kami,” ujarnya kepada kedua tamunya itu. Selama beberapa menit, ia meninggalkan Salman dan Abu Darda sejenak di ruang tamu. Dari arah kamar, kemudian datanglah sang tuan rumah dan istrinya. Adapun putri mereka berada di balik hijab. Gadis itu telah mengetahui duduk perkara kedatangan Salman dan Abu Darda. Sejurus kemudian, ibunda wanita itu berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang.” Seketika, kedua tamu itu merasa tegang menanti jawaban. Gadis itu telah mengetahui duduk perkara kedatangan Salman dan Abu Darda. Sejurus kemudian, ibunda wanita itu berkata. “Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” sambung si ibu. Jawaban tersebut sempat mengguncang hati Salman. Bagaimanapun, sahabat Nabi SAW itu tetap tegar. Ternyata, apa yang ingin disampaikan istri tuan rumah itu belum selesai. “Namun, lantaran kalian berdualah yang datang kepada kami, dengan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan. Putri kami akan menjawab iya apabila Abu Darda yang memiliki keinginan yang sama seperti Salman.” Perkataan itu menggetarkan lagi dada Salman. Ternyata, gadis yang ingin dilamarnya itu lebih memilih Abu Darda. Boleh jadi, sang sahabat Nabi SAW akan patah hati menghadapi situasi ini. Akan tetapi, yang ditunjukkannya adalah perasaan gembira. Kekukuhan iman membuatnya ikut senang dengan kebahagiaan yang diterima kawannya, Abu Darda. “Allahu akbar, semua mahar dan harta yang kupersiapkan hari ini akan kuserahkan kepada Abu Darda. Aku pun bersedia menjadi saksi pernikahan kalian,” katanya dengan wajah senang dan kelapangan hati. Akhirnya, disepakatilah mengenai tanggal pernikahan. Dalam perjalanan pulang, Abu Darda mengungkapkan perasaannya, “Wahai Salman, aku merasa malu padamu atas terjadinya peristiwa tadi.” “Aku lebih pantas merasa malu denganmu. Aku memang hendak melamarnya, sementara Allah telah memutuskan bahwa wanita tersebut adalah untukmu,” kata Salman. Alih-alih kecewa atau iri dengki, ia ikut merasa gembira dengan rezeki Allah SWT yang sampai pada sahabatnya. Ketegaran dan ketulusan hatinya patut menjadi uswah bagi kita semua.
kisah salman al farisi dan abu darda